Delapan Bulan Mengubah Arah: Strategi Tiga Pilar Rektor UPG 1945 NTT

26 Maret 2026Administrator UPG 1945 NTT

Delapan bulan memang bukan waktu yang lama untuk mengubah nasib sebuah perguruan tinggi. Namun, itulah tantangan yang kini dijalani Uly Jonathan Riwu Kaho, SP., M.Si., sejak dilantik sebagai Rektor Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Nusa Tenggara Timur. Ia memimpin kampus yang sedang berupaya memperkuat reputasinya di dunia pendidikan tinggi di NTT.

“Kalau kita ingin bekerja dengan baik dan menghasilkan yang baik, maka yang pertama adalah hidup dengan takut akan Tuhan,” ungkap Uly dalam wawancara khusus bersama Garda Indonesia pada akhir Februari 2026.

Bagi Uly, pernyataan tersebut bukan sekadar refleksi spiritual, melainkan fondasi utama dalam kepemimpinannya. Ia merumuskan konsep “tiga pilar untuk satu tujuan mulia” yang telah ia siapkan bahkan sebelum menjabat sebagai rektor. Pilar pertama adalah takut akan Tuhan, yang menurutnya menjadi sumber kebijaksanaan dan keberanian dalam mengambil keputusan penting.

Pilar kedua adalah perencanaan yang matang. Uly mewajibkan seluruh unit kerja di kampus menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) secara detail. Baginya, dokumen ini bukan hanya formalitas administratif, tetapi menjadi panduan nyata dalam menjalankan perubahan institusi. “Perencanaan harus disusun sebaik mungkin agar seluruh aktivitas lembaga berjalan terarah dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Sementara itu, pilar ketiga adalah kolaborasi yang ia sebut sebagai “super team.” Dalam pembagian peran, Uly fokus membangun jejaring eksternal dan menggalang sumber daya, sedangkan para Wakil Rektor bertanggung jawab menerjemahkan kebijakan ke dalam program teknis yang menyentuh dosen, mahasiswa, dan alumni. Pendekatan ini sejalan dengan konsep guiding coalition yang dikemukakan oleh John Kotter (1996), yaitu pentingnya tim penggerak dalam keberhasilan transformasi organisasi.

Tantangan besar langsung dihadapi Uly setelah menjabat, yakni perubahan sistem akreditasi nasional dari versi 1.0 ke 2.0 oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Banyak pihak meragukan kemampuan UPG 1945 NTT untuk melewati masa transisi tersebut, mengingat standar baru yang lebih ketat dan kompleks.

“Banyak yang mengira UPG akan kesulitan. Namun syukur kepada Tuhan, kita berhasil melewati proses tersebut,” ujarnya. Status akreditasi kampus pun berhasil dipertahankan, dan kini fokus diarahkan pada peningkatan peringkat akreditasi ke level yang lebih tinggi.

Sebagai langkah strategis, UPG 1945 NTT menjalin kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang yang telah meraih akreditasi Unggul. Tim gabungan dari kedua institusi telah dibentuk untuk memperkuat berbagai aspek, mulai dari Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), kelengkapan dokumen akademik, hingga penerapan tata kelola berbasis ISO.

“Kampus ini ke depan harus menerapkan tata kelola berbasis ISO jika ingin menjadi unggul dan berstandar internasional. Tidak cukup hanya mengikuti arus,” tegas Uly.

Di tengah upaya tersebut, tidak semua langkahnya mendapat respons positif. Ia mengakui adanya kritik yang menilai dirinya terlalu sering berada di luar kampus. Namun, ia memilih untuk tetap fokus bekerja. Seiring waktu, hasilnya mulai terlihat: skor SINTA dosen meningkat, produktivitas penelitian bertambah, program sertifikasi dosen berjalan, serta semakin banyak dosen melanjutkan studi doktoral. Bahkan, minat mahasiswa S1 untuk melanjutkan ke jenjang S2 juga mulai meningkat.

“Seorang pemimpin harus memiliki konsep yang jelas dan mampu menjadi konseptor yang unggul. Jika hanya duduk di belakang meja dari pagi hingga malam, apa dampak nyata yang bisa dihasilkan?” tutupnya tegas.