Rektor UPG 1945 NTT Kembangkan Riset Galang Giting, Tanaman Obat Langka Penangkal Kanker

Di tengah kesibukannya memimpin Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Rektor Uly Jonathan Riwu Kaho ternyata sedang menuntaskan disertasi doktoralnya yang menyoroti konservasi tanaman obat lokal. Penelitian tersebut berfokus pada Galang Giting, tumbuhan berkhasiat yang kini keberadaannya semakin langka di wilayah Kota Kupang.
“Tanaman ini sebenarnya sudah dikenal masyarakat sejak lama. Banyak orang pernah melihatnya, tetapi belum memahami besarnya manfaat dan potensi yang dimilikinya, termasuk nilai ekonominya di masa depan. Sayangnya, karena kurang diperhatikan, tanaman ini perlahan menghilang,” ujar Uly pada awal April 2026.
Secara ilmiah, Galang Giting diketahui mengandung senyawa alkaloid indol dan flavonoid yang memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti menghambat perkembangan sel kanker, khususnya kanker usus, bersifat antiinflamasi, serta membantu penderita hipertensi dan penyakit jantung koroner.
Menariknya, hasil penelitian sementara menunjukkan bahwa Galang Giting yang tumbuh di NTT diduga memiliki kandungan metabolit sekunder lebih tinggi dibandingkan tanaman serupa yang tumbuh di India, negara yang telah lama memanfaatkan tanaman tersebut sebagai obat tradisional.
Menurut Uly, kondisi tanah dan iklim kering di NTT diduga membuat tanaman ini memproduksi metabolit sekunder lebih banyak sebagai mekanisme bertahan hidup. “Kalau kandungannya lebih tinggi, maka potensi khasiat farmakologinya juga bisa jauh lebih kuat,” jelasnya.
Untuk memperkuat temuan tersebut, ia berencana melakukan sequencing genetik di laboratorium genomik dan membandingkan hasilnya dengan data milik National Center for Biotechnology Information guna mengetahui kemungkinan adanya perbedaan genetik antara spesimen Galang Giting dari NTT dan India.
Penelitian yang dilakukan Uly mencakup enam desa di Kabupaten Kupang. Dari hasil pengumpulan data, ditemukan bahwa populasi Galang Giting terus mengalami penurunan akibat degradasi lingkungan dan alih fungsi lahan. Di Kota Kupang sendiri, tanaman ini kini sangat sulit ditemukan dan hanya tersisa di beberapa kawasan hutan kota.
Karena itu, Uly berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk melakukan konservasi. Menurutnya, Galang Giting bukan tanaman yang mudah tumbuh di sembarang tempat karena membutuhkan ekosistem tertentu dan harus hidup berdampingan dengan tanaman semak lainnya. Ia mengingatkan bahwa jika pembangunan terus berlangsung tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan, bukan tidak mungkin tanaman ini akan benar-benar hilang dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Disertasi berjudul Analisis Etnobotani Berbasis Konservasi Tumbuhan Obat Galang Giting di Kabupaten Kupang tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026, dengan rencana sidang tertutup berlangsung sekitar Agustus hingga November mendatang.
Bagi Uly, penelitian ini tidak hanya bernilai akademis. Latar belakang keluarganya yang dekat dengan tradisi pengobatan herbal mendorongnya untuk membuktikan secara ilmiah potensi kekayaan hayati NTT, sekaligus mengajak pemerintah dan masyarakat menjaga tanaman obat lokal sebelum keberadaannya benar-benar hilang.
