Spirit Takut Akan Tuhan dan Kolaborasi Jadi Kekuatan UPG 1945 NTT

25 Mei 2026Administrator UPG 1945 NTT

Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Uly Jonathan Riwu Kaho, SP., M.Si., memaparkan visi kepemimpinannya dalam mendorong UPG 1945 NTT menjadi kampus unggul melalui tiga prinsip utama, yakni kepemimpinan yang berlandaskan takut akan Tuhan, perencanaan yang terarah, serta kolaborasi lintas sektor. Ketiga prinsip tersebut dirumuskan dalam konsep yang ia sebut sebagai Tri Bajik Eka Cita.

Paparan itu disampaikan Uly kepada awak media di Kupang, Rabu (4/2), saat menjelaskan arah strategis pengembangan universitas setelah dirinya dilantik sebagai rektor pada 7 Juli 2025. Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin di dunia pendidikan tidak hanya diukur dari kapasitas akademik, tetapi juga dari nilai-nilai yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan.

Uly menegaskan bahwa prinsip takut akan Tuhan menjadi fondasi moral agar seorang pemimpin tetap berada pada jalur yang benar dalam mengelola lembaga pendidikan.

“Banyak orang memiliki kemampuan akademik yang luar biasa, namun ketika diberi amanah memimpin, tidak sedikit yang kemudian menghadapi berbagai persoalan. Karena itu, hidup dalam prinsip takut akan Tuhan menjadi dasar utama bagi seorang pemimpin, khususnya di dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia meyakini, ketika seorang pemimpin menjadikan nilai tersebut sebagai pegangan hidup, maka hikmat dan kebijaksanaan akan menyertai setiap kebijakan yang diambil. Menurutnya, nilai itu pula yang menjadi penopang keberhasilan kepemimpinan dalam jangka panjang.

Perencanaan sebagai Arah Pengembangan

Prinsip kedua dalam Tri Bajik Eka Cita adalah pentingnya perencanaan yang matang dan terukur. Uly menilai setiap kepemimpinan harus memiliki arah yang jelas melalui dokumen perencanaan yang sistematis dan dapat dievaluasi secara berkala.

Ia menjelaskan, UPG 1945 NTT telah memiliki Rencana Induk Pengembangan (RIP) yang memuat visi pengembangan universitas untuk 25 hingga 30 tahun ke depan. Dokumen tersebut kemudian diturunkan ke dalam Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan sebagai tahapan pencapaian yang lebih realistis dan terukur.

“Rencana induk merupakan gambaran besar cita-cita institusi. Dari sana diterjemahkan ke dalam Renstra lima tahunan agar setiap langkah memiliki arah yang jelas, terukur, dan mudah dievaluasi,” katanya.

Menurut Uly, pengalaman yang dimilikinya dalam bidang perencanaan dan tata kelola perguruan tinggi menjadi modal penting dalam menyusun arah pengembangan universitas. Ia menilai tanpa perencanaan yang jelas, sebuah kepemimpinan akan kehilangan orientasi dan sulit mencapai target yang telah ditetapkan.

Kolaborasi Jadi Kunci Kemajuan

Prinsip ketiga yang ditekankan Uly adalah kolaborasi. Ia menilai keberhasilan sebuah institusi tidak mungkin dicapai oleh seorang pemimpin secara sendiri, melainkan melalui kerja sama tim yang solid dan sinergi dengan berbagai pihak.

“Orang disebut hebat bukan karena bekerja sendiri, tetapi karena mampu membangun tim yang kuat dan membuka ruang kolaborasi dengan banyak pihak,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kebutuhan penting bagi UPG 1945 NTT untuk melakukan lompatan kemajuan setelah melewati satu dekade kepemimpinan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa pengembangan universitas saat ini bukan dimulai dari nol, melainkan melanjutkan serta memperkuat fondasi yang telah dibangun para rektor terdahulu.

Dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, Uly menempatkan riset dan pengabdian kepada masyarakat sebagai indikator utama peningkatan mutu akademik. Ia menilai proses pendidikan dan pengajaran harus bertumpu pada hasil riset dosen serta pengabdian yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Ketika dosen mengajar berdasarkan hasil riset yang dilakukan, maka proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan relevan. Dari sana lahir pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya mendokumentasikan seluruh aktivitas riset dan pengabdian melalui publikasi ilmiah di jurnal bereputasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing institusi sekaligus reputasi akademik para dosen.

Menurut Uly, upaya tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif dengan meningkatnya skor SINTA UPG 1945 NTT dari sekitar 1.000 menjadi hampir 10.000. Tahun ini, universitas menargetkan skor tersebut dapat meningkat hingga mencapai 20.000–30.000.

Penguatan SDM dan Akses Pendidikan

Selain penguatan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia dosen juga menjadi perhatian utama. Uly mendorong para dosen untuk melanjutkan studi doktoral dan meningkatkan kompetensi profesional, termasuk melalui sertifikasi dosen.

Di sisi lain, kolaborasi yang dibangun universitas turut membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi mahasiswa. Salah satunya melalui perolehan sekitar 400 kuota KIP Kuliah, yang menjadikan UPG 1945 NTT sebagai salah satu perguruan tinggi swasta penerima KIP Kuliah terbanyak di NTT.

“Kolaborasi yang dibangun melalui perencanaan yang baik telah membuka akses pendidikan bagi anak-anak NTT,” ujarnya.

Uly berharap, dengan berpegang pada nilai, perencanaan yang matang, dan kolaborasi yang kuat, UPG 1945 NTT dapat terus bergerak menuju kampus unggul dan berdaya saing, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur.